Sabtu, 30 Januari 2016

Maklumat Lurah Dembe Jaya Yang Melarang Uttaran

Beberapa waktu belakangan ini, tayangan televisi di Indonesia tengah dibanjiri dengan sinetron ‘impor’ dari berbagai negara seperti Turki dan India.
 
Sinetron bernuansa romantisme itu berhasil menghipnotis masyarakat tanah air. Salah satunya adalah sinetron India, Uttaran, yang ditonton oleh hampir semua kalangan termasuk anak kecil.
 
Situasi ini rupanya membuat Lurah Dembe Jaya, Kecamatan Kota Utara, Kota Gorontalo, Faniear Nanda Doda, merasa cemas. Pasalnya, demam sinetron India tersebut rupanya berdampak pada produktivitas kerja pegawainya.
 
Maklumat Lurah Dembe Jaya Yang Menghebohkan
Maklumat Lurah Dembe Jaya
Saat jadwal tayang sinetron Uttaran itu tiba, sang Lurah dibuat pusing karena para stafnya bukannya kerja tapi malah asyik nonton televisi. Kesal dengan kondisi itu, Lurah Dembe Jaya akhirnya mengeluarkan maklumat larangan menonton tayangan sinetron India.
 
“Dilarang menonton sinetron India Uttaran. Karena menyebabkan kurang konsentrasi aparat kantor Lurah Dembe Jaya,” tulis sebuah pengumuman seperti dikutip Uniqpost dari akun Facebook Noviana Eredha, Sabtu (30/1). (uniqpost)

Masjid Tertua Di Gorontalo Ini Dibangun Sebagai Mahar Pernikahan

Di sudut sebelah Selatan kota Gorontalo terdapat sebuah masjid yang bersejarah, Masjid Hunto Sultan  Amay namanya. Hunto singkatan dari “Ilohuntungo” yang berarti basis atau pusat perkumpulan agama Islam. Nama Sultan Amay merujuk pada salah seorang pemimpin Kerajaan Gorontalo yang pertama kali masuk Islam.

Masjid ini didirikan oleh Sultan Amay pada tahun 1495. Masjid tertua di Gorontalo ini merupakan mahar pernikahannya dengan Putri Boki Antungo, anak perempuan Raja Palasa dari Mautong Sulawesi Tengah. Begitulah permintaan pihak keluarga Sang Putri saat beliau berniat menikahinya tak lama setelah mengikrarkan diri masuk Islam.

Sejak awal oleh sang pendiri masjid ini dijadikan sebagai basis perkembangan agama Islam di kota yang dikenal dengan julukan “Serambi Madinah” ini. Sampai-sampai, Sultan Amay mengundang Ulama terkemuka dari Arab Saudi yang bernama Syekh Syarif Abdul Aziz, yang makamnya ada dalam areal masjid sampai hari ini, untuk mengajarkan dan meyebarkan Islam di Gorontalo.

Berdiri di atas tanah berukuran 12 x 12 M2, Masjid Hunto Sultan Amay terletak berada di Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Saat bimsaislam mengunjungi beberapa waktu lalu (30/12), masjid yang telah tercatat sebagai cagar budaya pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Gorontalo ini  telah mengalami renovasi.


Masjid Hunto Sultan Amay Gorontalo, Mesjid Tertua Di Gorontalo
Masjid Hunto Sultan Amay Gorontalo, Mesjid Tertua Di Gorontalo

Bangunan utama masjid  yang berukuran 12 x 12 meter masih terjaga keasliannya, begitupun dengan keberadaan Makam Sultan Amay dan Syekh Syarif Abdul Aziz yang terletak di depan pengimaman hanya berbeda ruangan dan memiliki pintu tersendiri. Sedangkan di bagian depan dan samping telah dibangun beberapa ruangan tambahan. Di depannya kini ada ruangan tambahan seluas 60 meter persegi, dan di sebelah utara ruang utama juga dibangun ruangan tambahan dengan ukuran 8 x 12 meter.

Saat berbincang santai dengan Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Sultan Amay, Syamsuri Kaloku, terungkap bahwa sejauh ini perhatian pemerintah terhadap masjid tersebut masih kurang. Pernah dibantu dana operasional beberapa kali tapi tidak berlanjut. “Sekarang kami swadaya menutupi kebutuhan operasional masjid”, jelasnya kepada bimasislam dengantetap tersenyum.
 
Bahkan, mereka menyampaikan harapan dapat bantuan Kemenag untuk mendirikan Perpustakaan Islam di salah satu ruangan yang ada. “Ini bangunan bersejarah dan sudah menjadi cagar budaya, sayang kalau tidak dijaga dan diberdayakan,” ujar Syamsuri di akhir perbincangan.(kemenag)

Sabtu, 02 Januari 2016

Kisah Uwais Al Qarni, Tidak Terkenal di Bumi Tapi Terkenal di Langit

Di Yaman, tinggalah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak, tubuhnya belang-belang. Walaupun cacat, ia adalah pemuda yang soleh dan sangat berbakti kepadanya Ibunya. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.
"Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu dapat mengerjakan haji," pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan.
Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seeokar anak lembu, Kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkinkan pergi Haji naik lembu. Olala, ternyata Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. "Uwais gila.. Uwais gila..." kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais memang sungguh aneh.
Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.
Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kg, begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. Ia menjadi kuat mengangkat barang. Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata ia latihan untuk menggendong Ibunya.
Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.
Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka'bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka'bah, ibu dan anak itu berdoa. "Ya Allah, ampuni semua dosa ibu," kata Uwais. "Bagaimana dengan dosamu?" tanya ibunya heran. Uwais menjawab, "Dengan terampunnya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga. Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga."
Subhanallah, itulah keinganan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah SWT pun memberikan karunianya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuk? itulah tanda untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat utama Rasulullah SAW untuk mengenali Uwais.
Beliau berdua sengaja mencari Uwais di sekitar Ka'bah karena Rasullah SAW berpesan "Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kamu berdua pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Dia akan muncul di zaman kamu, carilah dia. Kalau berjumpa dengan dia minta tolong dia berdua untuk kamu berdua."
"Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan)." (HR. Bukhari dan Muslim)
CERITA KEHIDUPAN UWAIS AL QORNI

Pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Ia tinggal dinegeri Yaman. Uwais adalah seorang yang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Uwais Al-Qarni adalah seorang anak yatim. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai sanak family sama sekali.
Dalam kehidupannya sehari-hari, Uwais Al-Qarni bekerja mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari. Upah yang diterimanya cukup buat nafkahnya dengan ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dia dan ibunya. Demikianlah pekerjaan Uwais Al-Qarni setiap hari.
Uwais Al-Qarni terkenal sebagai seorang anak yang taat kepada ibunya dan juga taat beribadah. Uwais Al-Qarni seringkali melakukan puasa. Bila malam tiba, dia selalu berdoa, memohon petunjuk kepada Allah. Alangkah sedihnya hati Uwais Al-Qarni setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka telah bertemu dengan Nabi Muhammad, sedang ia sendiri belum pernah berjumpa dengan Rasulullah. Berita tentang Perang Uhud yang menyebabkan Nabi Muhammad mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya, telah juga didengar oleh Uwais Al-Qarni. Segera Uwais mengetok giginya dengan batu hingga patah. Hal ini dilakukannya sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Nabi Muhammmad saw, sekalipun ia belum pernah bertemu dengan beliau. Hari demi hari berlalu, dan kerinduan Uwais untuk menemui Nabi saw semakin dalam. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat bertemu Nabi Muhammad saw dan memandang wajah beliau dari dekat? Ia rindu mendengar suara Nabi saw, kerinduan karena iman.
Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah. Siang dan malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah nabi Muhammad saw.
Akhirnya, kerinduan kepada Nabi saw yang selama ini dipendamnya tak dapat ditahannya lagi. Pada suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinyadan mohon ijin kepada ibunya agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah di Madinah. Ibu Uwais Al-Qarni walaupun telah uzur, merasa terharu dengan ketika mendengar permohonan anaknya. Ia memaklumi perasaan Uwais Al-Qarni seraya berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”
Betapa gembiranya hati Uwais Al-Qarni mendengar ucapan ibunya itu. Segera ia berkemas untuk berangkat. Namun, ia tak lupa menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sembari mencium ibunya, berangkatlah Uwais Al-Qarni menuju Madinah.
Uwais Ai-Qarni Pergi ke Madinah
Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qarni sampai juga dikota madinah. Segera ia mencari rumah nabi Muhammad saw. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al-Qarni menanyakan Nabi saw yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada dirumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al-Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah ra, istri Nabi saw. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi saw, tetapi Nabi saw tidak dapat dijumpainya.
Dalam hati Uwais Al-Qarni bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terngiang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, “engkau harus lekas pulang”.
Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi saw. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al-Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah ra untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi saw. Setelah itu, Uwais Al-Qarni pun segera berangkat mengayunkan langkahnya dengan perasaan amat haru.
Peperangan telah usai dan Nabi saw pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi saw menanyakan kepada Siti Aisyah ra tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni anak yang taat kepada ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi saw, Siti Aisyah ra dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah ra, memang benar ada yang mencari Nabi saw dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad saw melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit itu, kepada para sahabatnya., “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih ditengah talapak tangannya.”
Sesudah itu Nabi saw memandang kepada Ali ra dan Umar ra seraya berkata, “suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”
Waktu terus berganti, dan Nabi saw kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi saw tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi saw itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu, yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa khalifah Umar ra dan sahabat Nabi, Ali ra, selalu menanyakan dia?
Rombongan kalifah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kalifah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kalifah yang baru datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan Ali ra mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarni.
Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang shalat. Setelah mengakhiri shalatnya dengan salam, Uwais menjawab salam khalifah Umar ra dan Ali ra sambil mendekati kedua sahabat Nabi saw ini dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi saw. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al-Qarni.
Wajah Uwais Al-Qarni tampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi saw bahwa dia itu adalah penghuni langit. Khalifah Umar ra dan Ali ra menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah.” Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al-Qarni”.
Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan do'a dan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “saya lah yang harus meminta do'a pada kalian.”
Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Seperti yang dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”
Fenomena Ketika Uwais Al-Qarni Wafat
Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, disana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.
Meninggalnya Uwais Al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al-Qarni adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, disitu selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.
Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qarni? bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.”
Berita meninggalnya Uwais Al-Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar ke mana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni disebabkan permintaan Uwais Al-Qarni sendiri kepada Khalifah Umar ra dan Ali ra, agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi saw, bahwa Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit.
Sumber: 
"Cerita ini diambil dari buku '20 Kisah Sahabat dan Thabiin' terbitan Qibla karangan Ummuthoriq el khanzo."

Rabu, 09 Desember 2015

Oleh-oleh Khas Gorontalo, Mulai dari Pia Sampai Kopi

Gorontalo yang dijuluki Serambi Medinah ternyata memiliki beberapa khas daerahnya yang mungkin tidak dijumpai didaerah lain. Bila pada tulisan sebelumnya saya telah menulis tentang 7 Kehebohan Gorontalo di Dunia Maya maka pada tulisan kali ini saya ingin berbagi informasi tentang Oleh-oleh Khas Gorontalo khas Gorontalo.

Siapapun anda ketika berkunjung ke sebuah daerah tentu ingin mengenal lebih jauh dan menikmati sesuatu yang berbeda dari tempat yang anda kunjungi. Mulai dari mencicipi kuliner, membeli souvenir, mengunjungi objek wisata sampai membawa pulang oleh - oleh khasnya.

Demikian halnya ketika anda berkunjung ke Gorontalo maka tentu anda ingin mengujungi tempat - tempat tertentu yang menjadi pusat keramaian atau objek wisata bagi para pengunjung. Nah bagi anda yang masih bingung atau masih mencari-cari silahkan dibaca Tempat Wisata Terkenal Di Gorontalo. Mungkin pula ada diantara anda yang bingung mencari penginapan atau hotel di wiliayah Gorontalo maka silahkan baca: Daftar Alamat Hotel Di Gorontalo, Lengkap dengan Foto dan Kontak.

Kembali ke pokok bahasan kali ini, Apa Oleh - oleh yang Khas dari Gorontalo khas Gorontalo ?
Berikut ini khas daerah Gorontalo mulai dari makanan, minuman sampai pada pakaian khas buatan Gorontalo.

Oleh-oleh Khas Gorontalo, Mulai dari Pia Saromde Sampai Kopi Pinogu
Gorontalo


Ilabulo 

Apa itu ilabulo ? Saat ini ilabulo belum manjadi ikon makanan khas Gorontalo, padahal dulunya adalah makanan yang selalu disajikan bagi raja-raja setelah upaya perdamaian terjadi. Ilabulo disebutkan melambangkan totombowata, artinya bersatu padu, yang menimbulkan kenikmatan setelah menyantapnya, sehingga pertikaian selesai dan terbentuklah perdamaian. Kini ilabulo dapat ditemukan sebagai street food di jalanan kota Gorontalo. 

Makanan khas Gorontalo ini terbuat dari tepung sagu yang didalamnya diisikan campuran telur ayam, hati ampela ayam, daging ayam, lalu dibumbui rempah dan dibungkus daun pisang. Jadi macam-macam perbedaan disatukan menjadi makanan yang lezat bernama ilabulo. Setelah itu, ilabulo harus dibakar dengan arang tempurung kelapa, sehingga asapnya tampak dari kejauhan. Bila sore hari, Anda berjalan-jalan disekitar jalan Diponegoro, Anda akan menyaksikan kepulan asap, nah disitulah ada penjual ilabulo. 

Sebenarnya ilabulo lebih mantap disantap langsung dalam kondisi panas, setelah selesai dibakar. Namun tidak ada salahnya bila Anda bawa untuk oleh-oleh, penjual akan membungkus secara khusus, dan dapat Anda ambil satu hari sebelum hari kepulanganan Anda. Bila Anda mempunyai teman di Gorontalo, 

Anda dapat titip beli lalu ilabulo dapat dikirim ke kota Anda dengan paket kilat One Night Service. Ilabulo harganya bervariasi tergantung kualitas isinya, makin mantap isinya harganya lebih premium. Harga berkisar 1-4 ribu rupiah per bungkus. 

Pia Khas Gorontalo

Pia meski dibanyak kota di Indonesia sudah banyak yang menjadikan salah satu pilihan oleh-oleh seperti Yogya, Semarang dan Bali, Gorontalo juga mempunyai pia. Ada banyak merek pia di Gorontalo, jadi Anda tinggal pilih yang sesuai dengan selera Anda. Ada yang dibuat oleh orang Gorontalo, ada juga oleh pendatang. 

Beberapa pembuat pia yang inovatif menciptakan beberapa macam ukuran pia, dari yang kecil (mini), midi, sedang dan normal. Isi pia adalah coklat, keju dan kacang hijau.

Di Gorontalo ada beberapa pia yang sudah sangat dikenal oleh masyarakat Gorontalo, seperti pia Extra Gorontalo, Pia Ramayana dan Pia Saronde. Baca: Pia Saronde dapat Penghargaan dari Presiden Jokowi

Kue Karawo 

Kue Karawo adalah kue yang dihias dengan motif kain Karawo, terbuat dari bahan mentega, gula halus, telur, susu, mentega, maizena, vanili dan tepung terigu. Setelah adonan siap dicetak sesuai model, bulat, hati atau lainnya, baru dipanggang di dalam oven, setelah matang, didinginkan dan siap dihias atau dilukis. Bahan penghias dimasukkan kedalam kertas roti berbentuk kerucut. Diperlukan ketelitian, kesabaran dan ketampilan khusus untuk menghias kue ini. Harga kue Karawo juga bervariasi yang menggunakan mentega berkualitas, harganya tentu lebih mahal. 

Keripik Kasubi Pahangga 

Merupakan keripik berbahan dasar singkong yang diberi gula merah / aren. Pahangga dalam bahasa Gorontalo artinya gula merah atau aren, gula merah asli Gorontalo sering dicari karena kualitasnya yang bagus. Keripik pisang juga dibumbui dengan gula merah. Makanan ini lebih sering dijumpai pada pedagang sayur keliling dan penjual jajanan anak .

Duduli 

Duduli adalah dodol ala Gorontalo, masih dibuat secara tradisonal oleh ibu-ibu. Terbuat dari bahan ketan, santan dan gula merah. Duduli melambangkan selamat datang dan selamat berpisah bagi warga Gorontalo untuk para tamunya. Hal ini melambangkan persahabatan atau silaturahmi yang lengket dan manis yang patut dikenang. 

Kini tersedia dodol biasa dan dodol dengan rasa durian, keduanya dengan taburan buah kenari. Duduli dijual menggunakan kemasan daun woka yang unik. Duduli mudah didapat disekitar bandara Gorontalo.

Kain Karawo 

Kain Karawo adalah kain khas Gorontalo, juga dikenal dengan nama kain Karawang. Motifnya melambangkan tiga hal kaitan (kaita), rantai (rantheya) dan bongkaran (wo'ala). Kain Karawo tulis asli harganya cukup mahal.

Upia Karanji atau Kopiah keranjang / Songkok 

Terbuat dari kulit kayu pohon wintu dari hutan Gorontalo, dikenal dengan istilah upiya karanji, berupa anyaman, memiliki warna khas dan memiliki disain motif sulaman bernilai seni tinggi pada tiap sisinya. Kopi Pinogu Kopi Pinogu adalah kopi organik dari hutan Gorontalo, tergolong kopi jenis Robusta dan Liberica. Aromanya sedap dan tidak terlalu berat, sehingga tidak berbahaya bagi mereka yang memiliki penyakit lambung. Kopi Pinogu sekarang sudah bisa dibeli dalam bentuk kemasan. Cukup banyak khan ragamnya, tinggal hitung dana Anda untuk oleh-oleh, dan mau Anda berikan untuk siapa saja. Siap berburu oleh-oleh, mari dipilih-dipilih .

Kue milu/jagung

Dalam bahasa Gorontalo, milu artinya jagung. Di Gorontalo, kue milu ini biasa disajikan di acara syukuran, pernikahan, khitanan, maupun acara lainnya. Dengan teksturnya yang lembut, kue berwarna kuning sangat pas disajikan pada acara spesial karena rasanya yang begitu manis .

Kue Dumalo

Dumalo yang memiliki cita rasa manis, renyah dan gurih ternyata pembuatanya sangat menarik. Kue ini masih dapat dijumpai di pasar tradisional dengan harga yang relatif murah, Rp1.000 per buah atau sekitar Rp55.000 per toples. 

Uniknya, proses pembuatan kue Dumalo menggunakan batok kelapa yang dilubangi kecil di bagian bawahnya. Adonan kue yang kental dimasukkan dalam batok kelapa, lalu adonan kue mengalir melalui lubang-lubang tempurung ke wajan yang panas yang berisi minyak kelapa, sambil tempurung terus digoyang tanpa henti untuk membuat bentuk-bentuk unik. Setelah dirasakan cukup, tempurung diangkat dari atas wajan.

Adonan yang berbentuk unik saling bertaut di atas wajan panas, sebelum mengeras lalu dilipat dengan menggunakan penjepit bambu menjadi bentuk empat persegi panjang. Dumalo yang berwarna kecoklatan dibiarkan dalam minyak panas hingga mengeras untuk  memastikan kematangannya. Dumalo yang matang lalu ditiriskan agar minyak menetes dan diangkat.

Sebelum dimasukkan toples untuk disimpan, Dumalo yang renyah ini dibiarkan sejenak di raung terbuka.

Kopi Pinogu

Kopi Pinogu adalah kopi organik yang menjadi produk unggulan di Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Kopi Pinogu berasal dari Kecamatan Pinogu yang merupakan sebuah kawasan yang sangat kaya dengan komoditas pertanian. Kopi pinogu berasal dari campuran kopi robusta dan kopi liberika. 

Kopi Pinogu ditanam sejak tahun 1875, dan merupakan kopi favorit Ratu Wilhelmina saat itu.Kopi Pinogu memiliki keunggulan tersendiri jika dibandingkan dengan kopi-kopi dari daerah lain. Dengan lokasi perkebunan yang begitu terisolasi dari dunia luar, kopi Pinogu belum pernah tersentuh dengan zat-zat kimia seperti pestisida, herbisida maupun pupuk kimia. 

Kopi Pinogu saat ini tengah gencar dipromosikan ke luar daerah hingga mancanegara, dari mendaulat Dahlan Iskan menjadi duta Kopi Pinogu, hingga ikut pameran internasional seperti pada pamaren internasional di Berlin, Jerman Selain itu Kopi Pinogu akan segera dipatenkan oleh pemerintah guna menghindari klaim dari pihak-pihak tertentu.

Pemerintah Kabupaten Bone Bolango melalui Dinas Pertanian Perkebunan dan Ketahanan Pangan (DPPKP) terus berupaya menggaungkan nama kopi pinogu hingga ke mata dunia, salah satunya dengan menerbitkan sebuah buku yang berjudul Pesona Kopi Pinogu dan Jejak Tiyombu Lo Lipu.


Tulisan tentang Oleh-oleh Khas Gorontalo, Mulai dari Pia Sampai Kopi ini saya kutip dari berbagai sumber. 

Semoga Bermanfaat!