Menuju Gorontalo Bebas "Cadeko" 2015

Cadeko, Merobek Iman Hingga Merusak Negara
Penampilan sering diterjemahkan sebagai cerminan dari kepribadian seseorang. Walaupun terkadang banyak yang berpenampilan baik tetapi perbuatanya tidak benar, demikian pula sebaliknya.

Di jaman sekarang penampilan sudah menjadi salah satu kebutuhan priemer. Mode mapun trend terbaru seolah menjadi mangsa dari para pemburu  hal - hal baru yang lebih modis dan trendy. Sehingga tak jarang orang lebih mengutamakan gaya tetapi cendrung lupa pada nilai dan norma yang berlaku.

Hal demikian pun telah terjadi di kampung halaman saya "Gorontalo". Gorontalo adalah daerah yang menjunjung tinggi nilai adat, nilai kesopanan dan Norma Agama. Sehingga Gorontalo pun dikenal sebagai Provinsi yang memiliki filosfi "Adat bersendikan Syara', Syara' bersendikan Kitabullah". Filosofi adat inilah yang membawa nama Gorontalo mendapat sebutan Serambi Madinah.

Dulu ketika saya  kecil, saya masih ingat satu kebiasaan unik Wanita Gorontalo yang sampai dengan saat ini sulit ditemukan.

Apakah itu ?

Tahukah anda, bahwa di Gorontalo sejak dulu bila seorang perempuan keluar rumah maka perempuan tersebut harus memakai sarung yang menutupi kaki hingga kepalanya, sehingga yang terlihat hanyalah kedua matanya layaknya (maaf) penampilan seorang Ninja. Baca : (Sejak Dulu, Gorontalo Sudah Mengenal "Cadar")

Hari ini saya sudah tidak pernah menjumpai lagi perempuan-perempuan Gorontalo yang seperti itu.
Dan Tahukah anda apa yang saya lihat saat ini ?

CADEKO alias Hot Pants...!

Di Masayarakat Gorontalo, Cadeko sudah sedemikian populer. Cadeko bukanlah Cakalang Deho Kodi-kodi, tetapi Cadeko yang satu ini merupakan singkatan dari Celana Dekat K*** (kelamin wanita dalam Bahasa Gorontalo). Entah dari mana istilah ini muncul tetapi yang jelas hari ini para lelaki di Gorontalo di suguhkan oleh tontonan gratis yang merupakan dampak dari westernisasi yang perlahan meracuni Generasi Muda Gorontalo.

Saya sangat setuju, bila anak muda sifatnya cendrung meniru hal - hal yang baru. Tetapi bagaimana jika yang di tiru malah menjerumuskannya kepada penyesalan panjang yang sia-sia. Dan kekhawatiran saya ini bukanlah sebuah kegelisan yang tanpa alasan. Hari ini kita tidak bisa menutup mata terhadap berbagai macam problematika Remaja Gorontalo terjadi yang kian hari makin menguji kesabaran para orang tua. Kasus pencabulan/pemerkosaan, hamil diluar nikah, kumpul kebo, narkoba, miras dan sebagainya yang pada gilirannya merusak diri sendiri, nama baik keluarga bahkan mencoreng Predikat Gorontalo Sebagai "Serambi Madinah". Dan saya sangat yakin, banyak kasus-kasus asusila terjadi di Gorontalo berawal dari pandagan mata pria yang kerap kali tercengang melihat celana berukuran mini diatas lutut.

Mengkuti mode adalah hak dari setiap orang. Namun apakah kita lupa bahwa hidup kita diatur oleh yang namanya hukum, aturan, norma dan kaidah Agama ?. Apalagi perilaku budaya ketimuran kita mengutamakan pada sopan santun dan penampilan yang baik.
Saat ini Cadeko dapat kita temui hampir dimana-mana. Layaknya jamur di musim hujan, cadeko seolah menjadi kebanggan remaja Putri Gorontalo.

Suatu ketika saya pernah menulis statu di facebook "Cadeko VS Ponggo" dengan gambar kuntilanak dan sebuah hot pants disebelahnya. Di gambar tersebut ada tulisannya "biar sama-sama perempuan tapi kuntilanak lebih sopan dari pakain wanita jaman sekarang". Singkat cerita ternyata status saya tersebut menjadi satu - satunya status facebook saya yang memiliki like dan komentar terbanyak. Sehingga animo saya saat itu bahwa ternyata banyak orang yang memikirkan sama seperti yang saya pikirkan.

 Memang, arus Globalisasi memang tak dapat dibendung lagi dan modernisasi pun memang tidak ada salah untuk kita ikuti agar kita tidak dikatakan ketinggalan jaman kolot kamseupay dan sebagainya.
Tetapi ingat ..! perlu ada filter untuk memilah dan memilih semua itu. Filternya apa ? ya tentu Agama. Yang terjadi hari ini adalah bukan modernisasinya yang kita pilih tetapi westernisasinya yang kita senangi. Sehingga ada semacam penjungkiran nilai, tekhnologinya kita gagal tetapi budaya ke barat - baratanya kita berhasil. Makanya Jangan sampai salah menafsirkan makna modernisasi yang sebenarnya.

Dan Akhirnya, Melaui postingan ini saya ingin menuliskan kekhawatiran saya terhadap bahaya cadeko bagi Generasi Muda Gorontalo :

  • Setiap pria normal tentu ada getaran ketikan melihat sesuatu yang tidak senonoh lewat  di hadapannya. Sebab menurut saya Cadeko sudah jelas-jelas dosa dan mengundang syahwat. Bagi saya yang sudah berkeluarga mungkin tidak masalah. Tetapi ati olo dengan adik-adikku, teman-teman yang masih lajang, belum menikah apalagi yang masih jomblo. Kemana tempat yang hendak di tuju ??? Inilah yang sering saya sebut dengan penyiksaan batin yang berdampak pada rusaknya moral Generasi Muda Gorontalo. Dan dimana-mana runtuhnya sebuah daerah, diawali dari hancurnya moral dari gererasi mudanya.
  • Saudaraku rakyat Gorontalo, saya yakin kita sama-sama sepakat bahwasanya Pemuda - dan Pemudi kita sekarang adalah calon Pemimpin dimasa akan datang. Namun bila generasi muda kita saat ini sudah tak berakhlak dan bermental bobrok, maka yakinlah Gorontalo hanya tinggal menunggu saatnya hancur yaitu pada saat pergantian generasi.
  • Degradasi moral adalah dampak buruk dari upaya Cadekoisasi di Gorontalo. Sehingga saya khawatir, suatu saat Serambi Madinah hanya tinggallah tameng menutupi kemaksiatan, saya pun khawatir filosofi adat Gorontalo hanya akan menjadi slogan semata.

Lalu apa solusinya ? Siapa yang bertanggun jawab terhadap semua ini?
  • Orang tua. tidak ada orang yang paling dekat dengan seorang anak melainkan orang tuanya. Baik orang tua dirumah maupun orang tua di sekolah (Guru). Olehnya peran orang tua untuk menanamkan nilai-nilai Agama kepada anak sejak dini sangat dibutuhkan.
  • Pemerintah. Saya sangat bersyukur di Gorontalo sudah ada Perda Maksiat. Tetapi itu pun saya rasa masih belum cukup, sebab dibutuhkan keseriusan dan konsistensi yang kuat untuk memberantas maksiat di Gorontalo. Bahkan Saya pun pernah berdandai-andai dan menghayalkan akan ada seorang Calon pemimpin di Gorontalo yang mengkampanyekan "Gorontalo Bebas Cadeko 2015" yang salah satu program utamanya yaitu membumi hanguskan Cadeko dari Gorontalo. Yaaa...semoga saja akan terjadi seperti itu !
  • Ulama, tokoh adat, tokoh pemuda, pemuka masyarakat dan seluruh elemen untuk memberikan kontribusi paling tidak men-support terhadap pemberantasan maksiat di Gorontalo.
Nah, saya rasa sudah terlalu panjang penjabarannya dan mohon maaf bila ada sesuatu yang tidak berkenan, lebih khusus kepada para pengusaha, pedagang pakaian Hot Pants (cadeko), memang hak anda menjual tetapi saya pun mempunyai kebebasan mengeluarkan ide dan pendapat, sebab tulisan ini tidak lain hanyalah salah satu bentuk keprihatian saya terhadap Generasi Muda Gorontalo yang mulai memperpanjang garis penanya untuk mencoreng nama baik "Serambi Madinah"ku yang tercinta.

Semoga Bermanfaat dan terima kasih ..! 




- Article Information: Cadeko, Merobek Iman Hingga Merusak Negara
- Ratting : 4.5

2 komentar

tulisan yang sangat menarik dan inspiratif... salam kenal dari saya from kota Gorontalo www.ide-vian.com
kapan-kapan bikin event KOPDAR Blogger se-provinsi gorontalo yah..

Salam juga bang untuk Pontingan kali ini ^_^
kunjungi juga ya Bukan Basa Basi Dan sekses selalu untuk Blogger Gorontalo ^_^